Selasa, 25 Maret 2008

Asam Urat dan Ginjal

Asam urat merupakan merupakan hasil akhir dari metabolisme purin yang ada di dalam tubuh. Sedangkan purin adalah protein dari golongan nukleoprotein yang tidak begitu dibutuhkan oleh tubuh. Kadar asam urat yang tinggi menyebabkan timbulnya tofus, benjolan keras berisi semacam serbuk kapur, di bagian kaki dan tangan.

Kadar asam urat yeng berlebihan dalam darah menyebabkan penimbunan kristal asam urat. Apabila penimbunan kristal itu terbentuk pada cairan sendi, maka terjadilah penyakit gout atau asam urat. Jika penimbunan itu terjadi pada ginjal, akan muncul batu asam urat ginjal yang sering disebut dengan batu ginjal.

Pada stadium awal, penyakit ginjal tidak menimbulkan gejala apapun. Namun seiring dengan metabolisme tubuh, akan terjadi penumpukan sisa-sisa metabolisme dalam tubuh penderita dan kaki serta tangan jadi membengkak, nafas pendek dan energi untuk beraktivitas akan menurun.

Fungsi utama ginjal adalah membersihkan darah dari sisa-sisa hasil metabolisme tubuh yang berada di dalam darah dengan cara menyaringnya. Jika kedua ginjal gagal menjalankan fungsinya (tahap akhir penyakit ginjal), sisa-sisa hasil metabolisme yang diproduksi oleh sel normal akan kembali masuk ke dalam darah (uremia).

Gagal ginjal bisa terjadi jika terdapat gangguan pada pembuluh darah vena atau sistem penyaringannya. Namun, bisa juga berasal dari masalah-masalah kesehatan yang lain, seperti tekanan darah tinggi dan diabetes atau adanya masalah dengan sistem penyaringan pada ginjal (seperti pada keadaan glomerulonefritis atau penyakit ginjal polikistik). Pada kasus lainnya juga ditemukan adanya masalah pada saluran kemih.

Fungsi ini biasa dilambangkan oleh GFR (Glomerular Filtration Rate). Beberapa zat dianggap menjadi indikator yang baik, di antaranya kreatinin. Sekarang derajat kerusakan ini diperjelas menjadi 5 tingkatan Chronic Kidney Disease (CKD):

Stadium 1: GFR > 90 ml/menit; Stadium 2: GFR 60-89 ml/menit; Stadium 3: GFR 30-59 ml/menit; Stadium 4: GFR 15-29 ml/menit; Stadium 5: GFR <15>

Caranya, cukup mengukur kadar kreatinin darah ((sCr: serum Creatinin), bisa diketahui persentase fungsi ginjal dari GFR-nya. Laki-laki GFR = (140 - umur) x (BB)/ (sCr x 72) dan Wanita GFR = (140 - age) x (weight) x 0.85/ (sCr x 72).

Selanjutnya, tinggal kita cocokkan masuk stadium mana. Yang sudah butuh cuci darah rutin itu biasanya istilahnya: End-stage CRF (fungsi ginjal tinggal 5%-10%). Sekarang yang CKD stadium 5 tersebut. Cuci darah yang sewaktu-waktu juga bisa dilakukan bila diketahui sudah terlanjur/mendadak tinggi. Masalahnya, CKD bersifat progresif. Upaya ini hanya bisa berusaha memperlambat atau kalau bisa menghambat progresinya agar tidak tambah berat. Sekarang, mengukur fungsi ginjal sudah jauh lebih maju yakni dengan menggunakan: Cystatin-C.

Bagi yang ada masalah ginjal, ada beberapa hal yang bisa dilakukan agar fungsi ginjal tidak bertambah parah, yakni:

1. Mengkonsumsi makanan rendah protein. Tubuh memerlukan protein untuk membentuk otot. Tapi bagi penderita penyakit ginjal, kelebihan protein menyebabkan gang-guan pada proses filtrasi atau penyaringan, sehingga terjadilah peningkatan sisa hasil metabolisme protein dalam darah. Anda dapat mencegah hal ini dengan mengkonsumsi makanan rendah protein.

2. Mengkonsumsi sedikit garam. Garam natrium berfungsi untuk mempertahankan cairan dalam tubuh Anda. Untuk mengurangi kadar garam dalam tubuh, bila Anda membeli makanan, periksalah label makanan carilah makanan yang mempunyai kandungan natrium di bawah 400 mg untuk sekali makan, gunakan saus yang berkadar natrium rendah, dan jangan gunakan garam pengganti yang mengandung kalium.

3. Tidak minum terlalu banyak. Ginjal yang normal dapat mengatur keseimbangan cairan yang masuk dan ke luar dari tubuh. Jika ginjal Anda mengalami gangguan, maka akan terjadi masalah pada pembentukan urine. Anda harus membatasi konsumsi air. Sebaiknya hisaplah air jeruk lemon untuk membasahi bibir yang kering, minumlah hanya untuk mengatasi haus, dan jika Anda menderita diabetes, jagalah ka-dar gula Anda, agar Anda tidak merasa terlalu haus.

4. Tidak mengkonsumsi fosfat. Makanan dari produk susu, kacang-kacangan yang dikeringkan dan coklat mengandung banyak fosfat.


Internet dalam Dunia Pendidikan

Penggunaan Internet berawal dari institusi pendidikan dan penelitian Amerika Serikat. Sejak tahun 1995 Internet mulai digunakan untuk kepentingan bisnis. Di luar negeri, Internet ini sering diasosiasikan dengan perguruan tinggi, sementara di Indonesia, Internet lebih diasosiasikan dengan bisnis (Internets Service Provider ()SP), e-commerce) dan hiburan.
Manfaat Internet Bagi Pendidikan
Masalah utama yang dihadapi oleh pendidikan di seluruh dunia adalah akses sumber informasi yang sangat sulit. Perpustakaan konvensional yang merupakan sumber informasi sangat sulit dijangkau karena jumlahnya sangat terbatas dan dengan terbatasnya ketersediaan buku. Buku-buku dan jurnal harus dibeli dengan harga mahal sehingga ilmu (dalam hal ini sumber informasi) menjadi sangat sulit ditemukan dan terkesan mahal. Keberadaan internet mampu mengubah semua itu, karena kita dapat mengakses sumber informasi dengan begitu mudah dan tidak terbatas jumlahnya. Tetapi patut disayangkan karena di negara kita Indonesia, internet masih sangat mahal.
Di Indonesia, masalah kelangkaan sumber informasi konvensional (perpustakaan) lebih berat dibanding dengan tempat lain. Adanya Internet seharusnya menjadi salah satu solusi pamungkas untuk mengatasi masalah ini.
Internet dapat digunakan dalam proses belajar mengajar terutama dalam perkuliahan. Dengan kecanggihan internet memungkinkan seorang dosen atau guru tidak harus datang ke kelas untuk menyampaikan materi tetapi cukup dilakukan melalui internet misalnya dengan menggunakan teleconference. Internet bisa saja mengabaikan jarak, sehingga ketika kita butuh informasi dari seorang pakar di luar negeri dengan segera kita dapatkan.
Permasalahan Internet Untuk Pendidikan
Penerapan internet dalam dunia pendidikan di Indonesia masih menemui banyak kendala, baik dari segi fasilitas maupun ketersedian sumber saya manusia serta ketersediaan sumber informasi yang dibuat oleh anak bangsa. Beberapa permasalahan yang kita hadapi adalah:
Akses Internet masih mahal
Meskipun sudah tersedia, akses ke Internet sangat mahal sehingga masih sangat sulit dijangkau oleh semua kalangan terutama insan pendidikan. Namun hal ini diharapkan akan menjadi lebih murah di masa yang akan datang. Diharapkan akselerasi penurunan harga menjadi fokus utama Pemerintah. Mekanisme lain adalah adanya subsidi dari pemerintah untuk institusi pendidikan. Saat ini sudah diprogramkan oleh pemerintah dalam bentuk JARDIKNAS (Jaringan Pendidikan Nasional) yang kabarnya akan didistribusikan dan dapat menjangkau semua sekolah. Ini tentu saja tidak mudah tetapi dilakukan secara bertahap.
Akses Internet masih susah diperoleh.
Salah satu solusi untuk layanan Internet adalah tersedianya warung internet (warnet) yang menyediakan jasa layanan internet. Tetapi keberadaan warnet pun tidak merata di seluruh Indonesia yang terfokus pada daerah perkotaan saja. Sementara di daerah-daerah, akses internet masih merupakan sebuah masalah karena fasilitas warnet masih terbatas bahkan masih ada daerah yang tidak memiliki warnet. Kondisi ini diperparah dengan belum terjangkaunya seluruh daerah oleh jaringan telpon yang bisa digunakan untuk mengakses internet.
Kurangnya penguasaan bahasa Inggris
Internet didominasi oleh bahasa Inggris termasuk informasi-informasi yang kita butuhkan dalam dunia pendidikan terutama sumber informasi yang akan digunakan dalam pembelajaran. Kondisi inilah yang menjadi penghambat akses informasi melalui internet karena dibutuhkan penguasaan bahasa inggris yang baik, sementara kita sadari bahwa masyarakat Indonesia yang menguasai bahasa global ini masih sangat terbatas atau kalau tidak mau dikatakan langka.
Tenaga Kependidikan Belum Siap
Dasar untuk pengoperasian layanan internet adalah keterampilan komputer. Hal ini menjadi sebuah permasalahan yang sangat mendasar karena masih tenaga kependidikan yang belum mahir mengoperasikan komputer, sehingga sangat sulit untuk menggunakan layanan internet. Hal ini bisa diatasi dengan menggalakkan pelatihan untuk pengoperasian komputer dan internet.
Apa yang harus Dilakukan?
Penggunaan internet dalam dunia pendidikan masih sangat jauh dari harapan. Perlu perhatian dari beberapa pihak terutama pemerintah dan tenaga kependidikan untuk membenahi diri dalam rangka penguasaan produk teknologi dalam upaya mencerdaskan anak bangsa.
Perhatian pemerintah sangat diperlukan untuk mengatasi permasalahan ini. Tetapi hal ini bisa saja berbenturan dengan penerapan otonomi daerah karena daerah sendiri yang memiliki otoritas untuk pengembangan daerahnya walau pun tidak serta merta pemerintah pusat lepas tangan.
Beberapa daerah khususnya di Sulawesi Selatan telah menerapkan penggunaan internet di sekolah dan pengelolaan administrasi secara online. Pemerintah daerah melakukan kerjasama dengan pihak swasta untuk pengembangan pendidikan melalui akses internet dan pengelolaan administrasi online. Salah satu instansi swasta yang getol melakukan pengembangan dunia pendidikan dengan akses internet adalah Sistem Sekolah Cerdas Indonesia (SSCI) yang telah menerapkan kerjasama dengan Kota Makassar, Kota Parepare, Kabupaten Bantaeng. Ini merupakan angin segar untuk dunia pendidikan. Semoga daerah-daerah lain melakukan hal yang sama sehingga tidak seorang manusia indonesia pun yang tertinggal dalam dunia Teknologi Informasi

dikutip dari herlang.blogspot.com

RELATIVITAS WAKTU DAN REALITAS TAKDIR


Semua pembahasan sebelumnya menunjukkan bahwa "ruang tiga dimensi" tidak ada dalam kenyataan, dan merupakan praduga yang sepenuhnya diilhami oleh persepsi, sehingga manusia menjalani hidup dalam "ketiadaan ruang". Menyatakan sebaliknya berarti mempercayai mitos yang jauh dari penalaran dan kebenaran ilmiah, karena tidak ada bukti absah tentang keberadaan dunia tiga dimensi. Kenyataan ini menyangkal asumsi pokok filsafat materialis yang menjadi dasar teori evolusi bahwa materi bersifat absolut dan abadi. Asumsi filsafat materialis lainnya adalah bahwa waktu juga absolut dan abadi. Asumsi kedua ini sama tidak masuk akalnya dengan asumsi pertama.

Persepsi tentang Waktu

Apa yang kita persepsikan sebagai waktu sesungguhnya sebuah metode untuk membandingkan satu momen dengan momen lain. Ini dapat dijelaskan dengan sebuah contoh. Misalnya, ketika seseorang memukul sebuah benda, ia mendengar bunyi tertentu. Ketika ia memukul benda yang sama lima menit kemudian, ia mendengar bunyi lagi. Orang tersebut merasakan jeda antara bunyi pertama dengan bunyi kedua, dan menyebut jeda ini sebagai "waktu". Namun saat ia mendengar bunyi kedua, bunyi pertama yang didengarnya tak lebih dari sebuah imajinasi dalam pikirannya. Bunyi pertama hanyalah sepotong kecil informasi dalam memori. Ia merumuskan konsep "waktu" dengan membandingkan momen yang sedang dijalaninya dengan momen yang ada dalam memorinya. Jika perbandingan ini tidak dilakukan, maka persepsi waktu pun tidak ada.

Sama halnya dengan seseorang yang membuat perbandingan ketika ia melihat orang lain memasuki ruangan dan duduk di kursi di tengah ruangan. Ketika orang tersebut duduk di kursi, citra yang berkaitan dengan saat ia membuka pintu, masuk ke dalam ruangan dan berjalan ke kursi, disusun sebagai potongan-potongan informasi di dalam otak. Persepsi tentang waktu terjadi ketika ia membandingkan kejadian orang yang duduk di kursi dengan kumpulan informasi yang dimilikinya.

Singkatnya, waktu muncul sebagai hasil perbandingan antara beberapa ilusi yang tersimpan di dalam otak. Bila seseorang tidak memiliki memori, maka otaknya tidak dapat melakukan interpretasi seperti itu sehingga persepsi tentang waktu tidak terbentuk. Alasan seseorang menyatakan dirinya berumur 30 tahun hanyalah karena ia telah mengakumulasi informasi berkaitan dengan 30 tahun tersebut di dalam otaknya. Bila memorinya tidak ada, maka ia tidak akan berpikir tentang keberadaan periode yang telah berlalu dan ia hanya akan mengalami "momen" tunggal yang sedang dijalaninya.

Penjelasan Ilmiah tentang Ketiadaan Waktu

Kutipan penjelasan beberapa ilmuwan dan cendekiawan berikut akan lebih menerangkan subjek ini. François Jacob, seorang intelektual terkenal dan profesor bidang genetika penerima hadiah Nobel, dalam bukunya Le Jeu des Possibles (Yang Mungkin dan Yang Aktual) menjelaskan tentang waktu yang berjalan mundur:

Film yang diputar mundur memungkinkan kita membayangkan sebuah dunia di mana waktu berjalan mundur: sebuah dunia di mana susu memisahkan diri dari kopi, meloncat keluar dari cangkir dan masuk kembali ke dalam panci susu; di mana berkas-berkas cahaya dipancarkan dari dinding-dinding dan menyatu dalam sebuah pusat, bukannya memancar keluar dari sumber cahaya; di mana sebuah batu naik ke telapak tangan seseorang karena kerja sama menakjubkan dari banyak tetes air yang membuat batu tersebut keluar dari dalam air. Namun dalam dunia di mana waktu berjalan mundur, proses-proses di dalam otak dan cara memori kita mengumpulkan informasi pun mengikutinya. Hal serupa juga berlaku bagi masa lalu dan masa depan, dan bagi kita, dunia akan tampak seperti apa adanya. 1

Dunia tidak berjalan seperti dinyatakan di atas karena otak kita tidak terbiasa dengan urutan kejadian demikian, dan kita beranggapan bahwa waktu selalu bergerak ke depan. Bagaimanapun, anggapan ini merupakan keputusan yang diambil di dalam otak sehingga bersifat relatif. Sesungguhnya kita tidak pernah tahu bagaimana waktu mengalir, atau bahkan tidak tahu apakah ia mengalir atau tidak. Semua ini menunjukkan bahwa waktu bukanlah fakta absolut melainkan hanya sebuah persepsi.

Fakta bahwa waktu bersifat relatif didukung juga oleh ahli fisika terpenting di abad ke-20, Albert Einstein. Lincoln Barnett, dalam bukunya The Universe and Dr. Einstein (Alam Semesta dan Dr. Einstein), menulis:

Bersamaan dengan menyingkirkan konsep ruang absolut, Einstein sekaligus membuang konsep waktu absolut — aliran waktu universal yang tidak berubah, mengalir terus-menerus dari masa lalu tak terhingga ke masa depan yang tak terhingga. Sebagian besar ketidakjelasan yang meliputi Teori Relativitas berasal dari keengganan manusia untuk menyadari bahwa pengertian waktu, seperti juga pengertian warna, adalah sebuah bentuk persepsi. Sebagaimana ruang hanyalah suatu susunan objek-objek material yang mungkin, waktu juga hanyalah susunan kejadian-kejadian yang mungkin. Subjektivitas waktu paling tepat dijelaskan dengan kata-kata Einstein sendiri. "Pengalaman-pengalaman individu," katanya, "kita lihat sebagai rangkaian berbagai kejadian; dalam rangkaian ini, kejadian tunggal yang kita ingat terurut sesuai dengan kriteria 'lebih dulu' dan 'kemudian'. Oleh karena itu setiap individu akan memiliki 'waktu-saya' atau waktu subjektif. Waktu ini, dengan sendiri-nya, tidak dapat diukur. Saya, tentu saja, dapat menghubungkan angka-angka dengan kejadian-kejadian sedemikian rupa sehingga angka terbesar melambangkan kejadian terkini dan bukan dengan kejadian lebih awal. 2

Einstein sendiri menunjukkan, seperti yang dikutip dari buku Barnett: "ruang dan waktu adalah bentuk-bentuk intuisi tidak terpisahkan dari kesadaran, seperti halnya konsep warna, bentuk atau ukuran". Menurut Teori Relativitas Umum: "eksistensi waktu tidak dapat dipisahkan dari urutan kejadian yang kita gunakan untuk mengukurnya." 3

Karena waktu terdiri atas persepsi, maka waktu bergantung sepenuhnya pada orang yang merasakannya. Karena itulah waktu bersifat relatif.

Kecepatan waktu mengalir akan berbeda berdasarkan acuan yang digunakan untuk mengukurnya, karena tubuh manusia tidak memiliki jam alami yang dapat menentukan secara tepat kecepatan waktu berjalan. Seperti yang ditulis Lincoln Barnett: "Sebagaimana tidak ada warna bila tak ada mata untuk melihatnya, tidak ada pula ukuran sesaat, sejam atau sehari bila tak ada kejadian untuk menandainya." 4

Relativitas waktu dapat dialami secara sederhana di dalam mimpi. Walaupun apa yang kita lihat dalam mimpi tampaknya berlangsung berjam-jam, sesungguhnya hanya berlangsung beberapa menit, atau bahkan beberapa detik.

Mari kita lihat sebuah contoh untuk memperjelas masalah ini. Bayangkan kita dimasukkan ke dalam ruangan dengan sebuah jendela yang dirancang khusus, dan kita berada di sana selama waktu tertentu. Ruangan tersebut dilengkapi sebuah jam sehingga kita dapat mengetahui berapa lama waktu yang telah kita lewati. Pada saat yang sama kita dapat melihat matahari terbit dan tenggelam pada selang waktu tertentu. Beberapa hari kemudian, untuk menjawab pertanyaan tentang berapa lama kita telah berada di dalam ruangan tersebut, kita akan mengacu pada informasi yang telah kita kumpulkan dengan melihat jam dari waktu ke waktu serta perhitungan berapa kali matahari telah terbit dan tenggelam. Misalnya, kita memperkirakan, tiga hari sudah kita lalui di dalam ruangan tersebut. Akan tetapi, jika orang yang memasukkan kita ke dalam ruangan itu mengatakan bahwa kita hanya menghabiskan dua hari di sana, dan bahwa matahari yang terlihat dari jendela adalah manipulasi simulasi mesin dan jam yang berada di ruangan telah diatur untuk berjalan lebih cepat, maka perhitungan yang telah kita lakukan menjadi tidak berarti.

Contoh ini menegaskan bahwa informasi yang kita miliki tentang laju waktu hanyalah berdasarkan acuan relatif. Relativitas waktu adalah fakta ilmiah yang telah dibuktikan melalui metodologi ilmiah. Teori Relativitas Umum Einstein menyatakan bahwa kecepatan perubahan waktu tergantung pada kecepatan benda tersebut dan jaraknya dari pusat gravitasi. Begitu kecepatan meningkatnya, waktu menjadi lebih singkat dan termampatkan; dan melambat sehingga bisa dikatakan "berhenti".

Hal ini diperjelas dengan contoh dari Einstein. Bayangkan dua saudara kembar: salah seorang tinggal di bumi sementara yang lainnya pergi ke luar angkasa dengan kecepatan mendekati kecepatan cahaya. Ketika penjelajah luar angkasa ini kembali ke bumi, ia akan mendapati saudaranya menjadi lebih tua daripada dirinya. Hal ini terjadi karena waktu berjalan lebih lambat bagi orang yang bepergian dalam kecepatan mendekati kecepatan cahaya. Hal yang sama terjadi pula pada seorang ayah penjelajah luar angkasa dan anaknya yang berada di bumi. Jika pada saat pergi, sang ayah berumur 27 tahun dan anaknya berumur 3 tahun; ketika sang ayah kembali ke bumi 30 tahun kemudian (waktu bumi), anaknya akan berumur 33 tahun tetapi sang ayah masih berumur 30 tahun! 5

Harus digarisbawahi bahwa relativitas waktu tidak disebabkan oleh perlambatan atau percepatan jam, atau perlambatan pegas mekanis alat penghitung waktu. Relativitas ini merupakan hasil perbedaan waktu operasi sistem materi secara keseluruhan, termasuk di dalamnya partikel-partikel sub atom. Dengan kata lain, bagi yang mengalaminya, perlambatan waktu bukan berarti menjalani kejadian seperti dalam film gerak lambat. Dalam keadaan di mana waktu memendek, detak jantung, replikasi sel, fungsi otak dan segala sesuatunya berjalan lebih lambat daripada manusia yang bergerak di bumi. Orang tersebut akan menjalani kehidupan sehari-hari tanpa menyadari sama sekali adanya pemendekan waktu. Pemendekan waktu tersebut tak akan terlihat jelas, sampai dilakukan perbandingan.

Relativitas dalam Al Quran

Penemuan-penemuan ilmu pengetahuan modern membawa kita pada kesimpulan bahwa waktu tidak bersifat absolut seperti anggapan materialis, tetapi merupakan persepsi relatif. Sangat menarik bahwa fakta yang baru terungkap oleh ilmu pengetahuan pada abad ke-20 ini, telah disampaikan dalam Al Quran kepada manusia 14 abad yang lalu.

Waktu adalah persepsi psikologis yang dipengaruhi oleh peristiwa, tempat dan kondisi. Fakta yang telah dibuktikan secara ilmiah ini dapat kita temukan pada banyak ayat Al Quran. Sebagai contoh, Al Quran menyatakan bahwa masa hidup seseorang sangat pendek:

Yaitu pada hari Dia memanggil kamu, lalu kamu mematuhi-Nya sambil memuji-Nya dan kamu mengira, bahwa kamu tidak berdiam (di dalam kubur) kecuali sebentar saja. (QS. Al Israa', 17: 52)

Dan (ingatlah) akan hari (yang di waktu itu) Allah mengumpulkan mereka, (mereka merasa di hari itu) seakan-akan mereka tak pernah berdiam (di dunia) hanya sesaat saja di siang hari; (di waktu itu) mereka akan saling berkenalan. (QS. Yunus, 10: 45)

Beberapa ayat menunjukkan bahwa manusia merasakan waktu secara berbeda dan kadang-kadang manusia bisa menganggap suatu periode yang sangat pendek sebagai periode yang sangat panjang. Contoh yang tepat adalah dialog antara beberapa manusia yang terjadi di saat pengadilan mereka di hari kiamat:

Allah bertanya: "Berapa tahunkah lamanya kamu tinggal di bumi?" Mereka menjawab: "Kami tinggal (di bumi) sehari atau setengah hari, maka tanyakanlah kepada orang-orang yang menghitung." Allah berfirman: "Kamu tidak tinggal di bumi melainkan sebentar saja, kalau kamu sesungguhnya mengetahui." (QS. Al Mu'minuun, 23: 112-114)

Dalam beberapa ayat lainnya, Allah menyatakan bahwa di tempat yang berbeda, waktu dapat mengalir dengan cara berbeda pula:

Dan mereka meminta kepadamu agar azab itu disegerakan, padahal Allah sekali-sekali tidak akan menyalahi janji-Nya. Sesungguhnya sehari di sisi Tuhanmu adalah seperti seribu tahun menurut perhitunganmu. (QS. Al Hajj, 22: 47)

Malaikat-malaikat dan Jibril naik (menghadap) kepada Tuhan dalam sehari yang kadarnya lima puluh ribu tahun. (QS. Al Ma'aarij, 70: 4)

Ayat-ayat ini mengungkapkan dengan jelas perihal relativitas waktu. Fakta yang telah disampaikan kepada manusia sekitar 1.400 tahun yang lalu ini baru dimengerti oleh ilmu pengetahuan pada abad ke-20. Hal ini menunjukkan bahwa Al Quran diturunkan oleh Allah, Dia yang meliputi seluruh ruang dan waktu.

Banyak ayat Al Quran lainnya menunjukkan bahwa waktu adalah persepsi. Hal ini terlihat jelas terutama dalam kisah-kisah Al Quran. Sebagai contoh, Allah telah membuat Ashhabul Kahfi (Penghuni-penghuni Gua) — sekelompok orang beriman yang disebutkan dalam Al Quran — tertidur lelap selama lebih dari tiga abad. Ketika terbangun, mereka mengira telah tertidur sebentar tetapi tidak dapat memastikan berapa lama:

Maka kami tutup telinga mereka beberapa tahun dalam gua itu, kemudian kami bangunkan mereka, agar Kami mengetahui manakah di antara kedua golongan itu yang lebih tepat dalam menghitung berapa lamanya mereka tinggal (dalam gua itu). (QS. Al Kahfi, 18: 11-12)

Dan demikianlah Kami bangunkan mereka agar mereka saling bertanya di antara mereka sendiri. Berkatalah salah seorang di antara mereka: "Sudah berapa lama kamu berada (di sini)?" Mereka menjawab: "Kita berada (di sini) sehari atau setengah hari. Berkata (yang lain lagi): "Tuhan kamu lebih mengetahui…" (QS. Al Kahfi, 18: 19)

Keadaan yang diceritakan dalam ayat di bawah ini juga membuktikan bahwa sesungguhnya waktu adalah persepsi psikologis.

Atau apakah (kamu tidak memperhatikan) orang yang melalui suatu negeri yang (temboknya) telah roboh menutupi atap-atapnya. Dia berkata, "Bagaimana Allah menghidupkan kembali negeri ini setelah roboh?" Maka Allah mematikan orang itu seratus tahun, kemudian menghidupkannya kembali. Allah berkata, "Berapa lamakah engkau tinggal di sini?" Dia berkata, "Saya tinggal di sini sehari atau setengah hari." Allah berfirman, "Sebenarnya engkau telah tinggal di sini seratus tahun lamanya; lihatlah makanan dan minumanmu yang tidak tampak berubah; dan lihatlah keledaimu (yang telah menjadi tulang-belulang); Kami akan menjadikanmu tanda kekuasaan Kami bagi manusia. Dan lihatlah tulang belulang keledai itu, bagaimana kami menyusunya kembali, kemudian kami menutupinya dengan daging." Maka tatkala telah nyata kepadanya (bagaimana Allah menghidupkan yang telah mati), diapun berkata, "Saya yakin bahwa Allah Mahakuasa atas segala sesuatu. (QS. Al Baqarah, 2: 259)

Ayat di atas dengan jelas menekankan bahwa Allah-lah yang menciptakan waktu, dan keberadaan-Nya tidak terbatasi oleh waktu. Di sisi lain, manusia dibatasi oleh waktu yang ditakdirkan Allah. Sebagaimana dikisahkan dalam ayat di atas, manusia bahkan tidak mampu mengetahui berapa lama ia tertidur. Dalam keadaan seperti ini, menyatakan bahwa waktu adalah absolut (sebagaimana dikatakan materialis) merupakan hal yang tidak masuk akal.

Takdir

Relativitas waktu memperjelas sebuah permasalahan yang sangat penting. Relativitas sangat bervariasi. Apa yang bagi kita tampak seperti bermiliar-miliar tahun, mungkin dalam dimensi lain hanya berlangsung satu detik. Bahkan, bentangan periode waktu yang sangat panjang dari awal hingga akhir dunia, dalam dimensi lain hanya berlangsung sekejap.

Ini adalah intisari dari konsep takdir — sebuah konsep yang belum dipahami dengan baik oleh kebanyakan manusia, khususnya materialis yang jelas-jelas mengingkari hal tersebut. Takdir adalah pengetahuan sempurna yang dimiliki Allah tentang seluruh kejadian masa lalu atau masa depan. Kebanyakan orang mempertanyakan bagaimana Allah dapat mengetahui peristiwa yang belum terjadi, dan ini membuat mereka gagal memahami kebenaran takdir. "Kejadian yang belum terjadi" hanya belum dialami oleh manusia. Allah tidak terikat ruang ataupun waktu, karena Dialah pencipta keduanya. Oleh sebab itu, masa lalu, masa mendatang, dan sekarang, seluruhnya sama bagi Allah; bagi-Nya segala sesuatu telah berjalan dan telah selesai.

Dalam The Universe and Dr. Einstein, Lincoln Barnett menjelaskan bagaimana Teori Relativitas Umum membawa kita kepada kesimpulan di atas. Menurut Barnett, alam semesta "dengan seluruh keagungannya hanya dapat dicakupi oleh sebuah intelektual kosmis." 6 Kehendak yang disebut Barnett sebagai "intelektual kosmis" tak lain adalah ketetapan dan pengetahuan Allah yang berlaku bagi seluruh alam semesta. Allah memahami waktu yang berlaku pada diri kita dari awal hingga akhir sebagai kejadian tunggal, sebagaimana kita dapat melihat awal, tengah dan akhir sebuah mistar beserta semua unitnya sebagai satu kesatuan. Manusia mengalami kejadian hanya bila saatnya tiba, dan mereka menjalani takdir yang telah Allah tetapkan atas mereka.

Perlu diperhatikan pula kedangkalan dan penyimpangan pemahaman masyarakat tentang takdir. Mereka berkeyakinan bahwa Allah telah menentukan "takdir" setiap manusia, tetapi takdir ini terkadang dapat diubah oleh manusia itu sendiri. Sebagai contoh, orang akan mengomentari seorang pasien yang kembali dari gerbang kematian dengan pernyataan seperti "ia telah mengalahkan takdirnya". Akan tetapi, tidak ada seorang pun yang dapat mengubah takdirnya. Orang yang kembali dari gerbang kematian tidak mati karena ia ditakdirkan tidak mati saat itu. Mereka yang mengatakan "saya telah mengalahkan takdir saya" berarti telah menipu diri sendiri. Takdir mereka pulalah sehingga mereka berkata demikian dan mempertahankan pemikiran seperti itu.

Takdir adalah pengetahuan abadi kepunyaan Allah, Dia yang memahami waktu sebagai kejadian tunggal dan Dia yang meliputi keseluruhan ruang dan waktu. Bagi Allah, segalanya telah ditentukan dan sudah selesai dalam sebuah takdir. Berdasarkan hal-hal yang diungkapkan dalam Al Quran, kita juga dapat memahami bahwa waktu bersifat tunggal bagi Allah. Kejadian yang bagi kita terjadi di masa mendatang, digambarkan dalam Al Quran sebagai kejadian yang telah lama berlalu. Sebagai contoh, ayat-ayat yang menggambarkan manusia menyerahkan catatan amalnya kepada Allah di akhirat kelak, mengungkapkan kejadian tersebut sebagai peristiwa yang telah lama terjadi:

Dan ditiuplah sangkakala, maka matilah siapa yang di langit dan di bumi kecuali siapa yang dikehendaki Allah. Kemudian ditiup sangka-kala itu sekali lagi, maka tiba-tiba mereka berdiri menunggu (putusannya masing-masing). Dan terang benderanglah bumi (padang mahsyar) dengan cahaya (keadilan) Tuhannya; dan diberikanlah buku (perhitungan perbuatan masing-masing) dan didatangkanlah para nabi dan saksi-saksi dan diberi keputusan di antara mereka dengan adil sedang mereka tidak dirugikan... Orang-orang kafir dibawa ke neraka jahanam berombong-rombongan... (QS. Az Zumar, 39: 73)

Ayat lainnya mengenai masalah ini adalah:

Dan datanglah tiap-tiap diri, bersama dengan dia seorang malaikat penggiring dan seorang malaikat penyaksi. (QS. Qaaf, 50: 21)

Dan terbelahlah langit, karena pada hari itu langit menjadi lemah. (QS. Al Haaqqah, 69: 16)

Dan Dia memberi balasan kepada mereka karena kesabaran mereka (dengan) surga dan (pakaian) sutera. Di dalamnya mereka duduk bertelekan di atas dipan, mereka tidak merasakan di dalamnya (teriknya) matahari dan tidak pula dingin yang bersangatan. (QS. Al Insan, 76: 12-13)

Dan diperlihatkan neraka dengan jelas kepada setiap orang yang melihat. (QS. An Naazi'aat, 79: 36)

Maka pada hari ini, orang-orang yang beriman menertawakan orang-orang kafir. (QS. Al Muthaffifiin, 83: 34)

Dan orang-orang yang berdosa melihat neraka, maka mereka meyakini, bahwa mereka akan jatuh ke dalamnya dan mereka tidak menemukan tempat berpaling daripadanya. (QS. Al Kahfi, 18: 53)

Terlihat bahwa peristiwa yang akan terjadi setelah kematian kita (dari sudut pandang manusia) dibicarakan dalam Al Quran sebagai peristiwa yang sudah selesai dan telah lama berlalu. Allah tidak terbatasi kerangka waktu relatif yang membatasi kita. Allah menghendaki semua ini dalam ketiadaan waktu; manusia sudah selesai melakukannya, seluruh peristiwa telah dilalui dan telah berakhir. Dalam ayat di bawah ini disebutkan bahwa setiap kejadian, kecil maupun besar, seluruhnya berada dalam pengetahuan Allah dan tercatat dalam sebuah kitab:

Kamu tidak berada dalam suatu keadaan dan tidak membaca suatu ayat dari Al Quran dan kamu tidak mengerjakan suatu pekerjaan, melainkan Kami menjadi saksi atasmu di waktu kamu melakukannya. Tidak luput dari pengetahuan Tuhanmu biarpun sebesar zarrah (atom) di bumi ataupun di langit. Tidak ada yang lebih kecil dan tidak (pula) yang lebih besar dari itu, melainkan semua tercatat dalam sebuah kitab yang nyata (Lauh Mahfuzh). (QS. Yunus, 10: 61)

Kekhawatiran Materialis

Topik tentang kebenaran yang mendasari materi, ketiadaan waktu dan ketiadaan ruang telah dengan sangat jelas dibahas dalam bab ini. Seperti dinyatakan sebelumnya, ini bukan sebuah filsafat atau cara berpikir, namun merupakan kebenaran nyata yang tidak mungkin diingkari. Selain merupakan kenyataan teknis, bukti-bukti rasional dan logis pun membawa kita kepada satu-satunya alternatif: alam semesta beserta seluruh zat yang membangunnya dan seluruh manusia yang hidup di dalamnya, merupakan sebuah ilusi. Semuanya merupakan kumpulan persepsi.

Materialis mengalami kesulitan memahami hal di atas. Sebagai contoh, mari kita tinjau kembali perumpamaan bis Politzer: meskipun secara teknis Politzer tahu bahwa ia tidak dapat keluar dari persepsinya, ia hanya mengakuinya untuk beberapa kasus tertentu. Bagi Politzer, peristiwa berlangsung di dalam otak hingga bis menabraknya. Namun segera setelah tabrakan terjadi, segalanya keluar dari otak dan menjadi realitas fisik. Pada tahap ini kecacatan logikanya sangat jelas: Politzer telah melakukan kesalahan yang sama seperti filsuf materialis Johnson yang mengatakan "Saya tendang batu, kaki saya sakit, karena itulah batu itu ada". Politzer tidak dapat memahami bahwa rasa sakit yang dirasakan setelah tabrakan bis semata-mata adalah persepsi juga.

Alasan dasar mengapa materialis tidak dapat memahami permasalahan ini adalah ketakutan mereka terhadap fakta harus hadapi setelah memahaminya. Lincoln Barnett menggambarkan bagaimana beberapa ilmuwan "melihat" permasalahan ini:

Bersamaan dengan pereduksian para filsuf atas seluruh realitas objektif menjadi dunia maya yang dibangun oleh persepsi, ilmuwan menyadari keterbatasan-batasan yang menakutkan dari indra manusia. 7

Acuan apa pun yang menyatakan bahwa materi dan waktu hanya persepsi sangat menakutkan bagi seorang materialis, karena hanya itulah pegangannya sebagai makhluk absolut. Pada tingkat tertentu, ia mempertuhankan materi dan waktu; karena berkeyakinan bahwa ia telah diciptakan oleh materi dan waktu (melalui evolusi).

Ketika ia menyadari bahwa segala sesuatu — alam semesta tempatnya hidup, dunia, tubuhnya sendiri, orang-orang lain, filsuf materialis lain yang telah mempengaruhi pemikirannya, dan lain-lain — adalah persepsi, ia merasa sangat ketakutan. Segala sesuatu yang diandalkan, dipercayai, dan ditujunya, secara tiba-tiba menghilang. Ia merasakan putus asa; hal yang sesungguhnya akan dirasakannya pula pada hari perhitungan dalam arti sebenarnya, seperti yang digambarkan ayat "Dan mereka menyatakan ketundukannya kepada Allah pada hari itu dan hilanglah dari mereka apa yang selalu mereka ada-adakan." (QS. An Nahl, 16: 87).

Sejak itulah materialis ini mencoba meyakinkan diri tentang kenyataan materi, dan membuat-buat "bukti" untuk tujuan ini. Ia memukulkan tangan ke dinding, menendang batu, berteriak, mencemooh, namun tidak pernah bisa lepas dari kenyataan.

Sebagaimana mereka ingin menyingkirkan kenyataan ini dari pikiran, mereka juga ingin orang lain melakukan hal serupa. Mereka sadar bahwa apabila khalayak umum mengetahui sifat sejati materi, keterbelakangan filsafat dan kebodohan pandangan dunia mereka akan terungkap sehingga tidak ada landasan lagi untuk merasionalisasikan pemikiran mereka. Ketakutan ini menyebabkan mereka sangat terganggu oleh fakta yang dibicarakan di sini.

Allah menyatakan bahwa ketakutan orang-orang yang tidak percaya tersebut akan semakin bertambah pada hari kiamat. Pada hari pengadilan, mereka akan mengalami hal sebagai berikut:

Dan (ingatlah), hari yang di waktu itu Kami menghimpun; mereka semuanya, kemudian Kami berkata kepada orang-orang musyrik, "Di manakah sembahan-sembahan kamu yang dahulu kamu katakan (sekutu-sekutu Kami)?" (QS. Al An'aam, 6: 22)

Setelah itu, mereka akan menyaksikan segala kekayaan, anak-anak, dan lingkungan terdekat yang dianggap nyata dan dijadikan sekutu bagi Allah, meninggalkan mereka dan menghilang. Kenyataan ini Allah ungkapkan dalam ayat "Lihatlah, bagaimana mereka telah berdusta terhadap diri mereka sendiri dan hilanglah daripada mereka sembahan-sembahan yang dulu mereka ada-adakan.." (QS. Al An'aam, 6: 24).

Keuntungan Orang-Orang Beriman

Sementara materialis gelisah dengan fakta bahwa materi dan waktu hanya persepsi, hal sebaliknya terjadi pada orang-orang yang beriman. Mereka yang beriman menjadi senang ketika memahami rahasia di balik materi, karena kenyataan ini adalah kunci bagi segala pertanyaan. Dengan kunci ini, semua rahasia terbuka. Mereka akan dengan mudah memahami berbagai hal yang sebelumnya sukar dipahami.

Seperti telah dikatakan sebelumnya, pertanyaan tentang kematian, surga, neraka, hari kiamat, perubahan dimensi, dan pertanyaan penting seperti "Di manakah Allah?", "Apa yang ada sebelum Allah?", "Siapa yang menciptakan Allah?", "Berapa lamakah kehidupan dalam kubur?", dan "Di manakah surga dan neraka?" akan mudah terjawab. Orang-orang beriman akan mengerti bagaimana Allah menciptakan seluruh alam semesta dari ketiadaan. Begitu pahamnya, sehingga dengan rahasia ini pertanyaan "kapan" dan "di mana" menjadi tidak berarti karena karena tidak ada lagi ruang dan waktu. Ketika ketiadaan ruang dipahami, akan dimengerti bahwa neraka, surga dan bumi sesungguhnya adalah tempat yang sama. Bila ketiadaan waktu dipahami, akan dimengerti bahwa segala sesuatu terjadi pada suatu momen tunggal: tidak ada yang perlu ditunggu dan waktu tidak berjalan, karena segalanya telah terjadi dan telah selesai.

Dengan terpahaminya rahasia ini, dunia bagaikan surga bagi orang-orang beriman. Segala kekhawatiran, kecemasan dan ketakutan material akan hilang. Manusia beriman akan memahami bahwa seluruh alam semesta memiliki satu Penguasa, bahwa Dialah yang mengubah seluruh dunia fisik menurut kehendak-Nya, dan yang harus ia lakukan hanya kembali kepada-Nya. Manusia ini kemudian sepenuhnya menyerahkan diri kepada Allah, "menjadi hamba yang saleh" (QS. Ali Imran, 3: 35).

Memahami rahasia ini adalah keberuntungan terbesar di dunia.

Dengan rahasia ini, akan terungkap kenyataan penting lainnya yang disebutkan di dalam Al Quran bahwa "Allah lebih dekat kepadanya dari-pada urat lehernya sendiri" (QS. Qaaf, 50: 16). Sebagaimana diketahui setiap manusia, urat leher berada di dalam tubuh. Apa yang dapat lebih dekat kepada seseorang selain yang ada di dalam tubuhnya sendiri? Keadaan ini dapat dijelaskan dengan realitas ketiadaan ruang. Ayat ini juga akan lebih mudah dimengerti setelah memahami rahasia tersebut.

Inilah kebenaran nyata. Manusia harus benar-benar yakin bahwa tidak ada penolong dan pemberi selain Allah. Tidak ada satu pun selain Allah; Dialah satu-satunya yang nyata, tempat manusia mencari perlindungan, memohon pertolongan dan mengharapkan balasan.

Ke mana pun kita menghadapkan wajah, di sanalah Allah hadir.

Maha Suci Engkau, tidak ada yang kami ketahui selain dari apa yang telah Engkau ajarkan kepada kami; sesungguhnya Engkaulah Yang Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana. (QS. Al Baqarah, 2: 32)



1. François Jacob, Le Jeu des Possibles (The Play of Possibilities), (Paris: LGF, 1986), hal. 111
2. Lincoln Barnett, The Universe and Dr. Einstein, (New York: Mentor Books, 1952), hal. 50-51
3. Lincoln Barnett, The Universe and Dr. Einstein, (New York: Mentor Books, 1952), hal. 21-22
4. Barnett, The Universe and Dr. Einstein, (New York: Mentor Books, 1952), hal. 51
5. Paul Strathern, The Big Idea: Einstein and Relativity, (London: Arrow Books, 1997), hal. 57
6. Lincoln Barnett, The Universe and Dr. Einstein, (New York: Mentor Books, 1952), hal. 78
7. Lincoln Barnett, The Universe and Dr. Einstein, (New York: Mentor Books, 1952), hal. 22

dikutip dari harun yahya di www.pakdenono.com




Mengenal Dunia Para Blogger


Rabecca Blood pada Blog-nya Rabecca's Pocket mengatakan bahwa para Blogger mulanya adalah mereka yang telah mengajarkan diri mereka sendiri HTML karena mereka menyenanginya, atau mereka yang setelah seharian bekerja di kantor dot.com mereka, dan kemudian menyisakan waktu luang beberapa jam setiap harinya untuk melakukan web surfing dan memasang hasilnya pada Blog mereka. Mereka adalah apa yang ia sebut orang-orang yang antusias pada web. "These were web enthusiast." tulisnya. Evan Williams, pendiri Blogger.com berpendapat, "Mayoritas Blogger adalah anak- anak muda atau mahasiswa. Dan banyak diantara mereka yang menggunakannya untuk berkomunikasi dengan teman-temannya.". Setiap orang tentu saja dapat membuat Blog-nya masing-masing, tapi seperti yang dikatakan Evan, Blogger saat ini kebanyakan terdiri dari para penulis diary muda yang dinamis, offbeat dan punya opini untuk segala hal. Dalam kata lain mereka adalah generasi yang tidak takut berpendapat dan mengungkapkan pendapat mereka. Tentu saja tidak semua orang adalah seorang Natural-Born Blogger dan dapat memproduksi Blog yang menarik. Di luar sana ada banyak Blogger yang merasa perlu mendokumentasikan setiap kali ia bersin, atau anak-anak muda yang menuliskan "Saya bosan" atau "School Sucks!" setiap tiga jam sekali. Amy Jo Kim seorang konsultan dan pengarang buku "Community Building on the Web: Secret Strategies for Succesful Online Communities", menulis bahwa diperlukan beberapa syarat dasar khusus untuk menjadi seorang Blogger, yaitu kemampuan untuk mengekspresikan diri, keinginan untuk berkomunikasi dengan orang banyak dan minat pribadi pada "keterusterangan".

Lalu apa gunanya membuat Blog bagi para Blogger tersebut ? Apa yang mungkin didapatkan oleh seorang Blogger dalam usaha mengurus Blognya ? Rabecca Blood menulis bahwa setelah ia membuat Blog-nya ada dua efek samping yang terjadi yang tidak ia perkirakan sebelumnya. Pertama ia menemukan kembali minatnya semenjak ia mulai membuat Blog. Dan hal kedua yang lebih penting, ia mulai lebih menghargai cara pandangnya sendiri. Ketika setiap harinya ia mengupdate Blog-nya ia mulai mempertimbangkan opini dan ide-idenya dengan lebih hati-hati dan ia mulai merasakan bahwa perspektifnya adalah unik dan penting untuk disuarakan. Ketika seorang blogger menuliskan apa yang ada di pikirannya, maka ia akan sering berkonfrontasi dengan pikiran-pikiran dan opininya sendiri. Menulis Blog, atau Blogging, setiap hari akan membuat Blogger menjadi penulis yang lebih percaya diri. Dengan terbiasa mengekspresikan pikirannya pada Blog-nya, seorang Blogger dapat dengan lebih baik mengartikulasikan opininya. Blog bahkan dapat menjadi semacam terapi jiwa. Blog dengan caranya sendiri sepertinya membuat telah membuat hidup, pikiran, opini dan kegiatan Bloggernya lebih mempunyai tujuan dan lebih teratur. Selanjutnya, menurut Scott Rosenberg dalam kolomnya di Salon,. Blogger, tulisnya, telah menemukan ceruk (niche) baru yang subur dalam lingkungan informasi Web. Mereka memenuhi ramalan para visionaris internet terhadap munculnya jenis baru para jurnalis online, tetapi bedanya daripada mencari berita di dunia nyata, mereka menyiangi internet untuk mendapatkan berita. Blogger menurut sifat dasarnya bukanlah reporter, mereka berperan sebagai editor dalam Blognya masing-masing dan dalam sebuah dunia dengan budaya media yang telah jenuh, Blog menjadi suara-suara alternatif yang menyuarakan bunyi independen dalam setiap ulasannya. Blog bukanlah obat mujarab untuk budaya yang telah jenuh dengan media, tapi mudah-mudahan Blog adalah salah satu peredanya tulis Rabecca Blood.


Artikel Populer IlmuKomputer.Com
Copyright © 2004 IlmuKomputer.Com

Dindin Nugraha dinesea@telkom.net


Senin, 24 Maret 2008

Masalah Hadist Shohih

Dalam forum ini, banyak muncul pertanyaan terutama dari Non Muslim. Ketika mereka melontarkan suatu hadist (kebanyakan isinya bisa dijadikan alat untuk menyerang Islam dan Rasulullah), rekan-rekan Muslim menggugat bahwa hadist tersebut dhaif (palsu). Bagaimanakan cara menentukan suatu hadist shahih atau dhaif…?

Rasulullah pada khotbahnya di Wada’ yaitu ibadah haji terakhir yang dilakukan Rasulullah sebelum beliau wafat : “Perhatikanlah perkataanku ini wahai manusia…., karena telah kusampaikan. Sesungguhnya, aku tinggalkan kepadamu sesuatu yang jika engkau berpegang dengannya niscaya kamu tidak akan sesat selama-lamanya, suatu urusan yang terang nyata, yaitu Kitab Allah dan Sunnah Rasul-Nya.”

Sunnah adalah segala perkataan dan tingkah laku Rasulullah, yang diyakini umat islam sebagai contoh sempurna seseorang dalam menjalankan ajaran Islam. Allah sendiri menyatakan dalam Al-Qur’an :

21. Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat dan dia banyak menyebut Allah. (Al Ahzab)

Maka apabila Al-Qur’an memerintahkan semua pengikutnya untuk melaksanakan shalat :

43. Dan dirikanlah shalat, tunaikanlah zakat dan ruku’lah beserta orang-orang yang ruku’. (Al Baqarah), Misalnya dalam melaksanakan shalat, juklaknya ada dalam hadist :

Shahih Bukhari : dari Sayyar bin Salamah, katanya : “Aku datang dengan ayahku kepada Abu Barzah al Aslami, lalu ayahku bertanya : “bagaimana caranya Rasulullah melakukan shalat wajib..??”. Jawab Abu Barzah : “Nabi melakukan shalat zhuhur ketika matahari tergelincir ke barat, shalat ‘asyar ketika kami kembali dari perjalanan ke ujung kota, sedangkan matahari masih terasa panasnya, dan nabi lebih suka mengundurkan syalat ‘isya namun tidak menyukai tidur sebelum shalat ‘isya, dan selesai shalat shubuh ketika seseorang telah mengenal orang yang duduk disampingnya (sudah ada cahaya matahari pagi), sedangkan Nabi membaca dalam shalat shubuh tersebut sebanyan 60 sampai 100 ayat), sedangkan untuk shalat magrib Abu Sayyar menyatakan lupa apa yang diucapkan Rasulullah.

Shahih Bukhari : Ibnu Umar mengatakan, bahwa Rasulullah bersabda : “Apabila tepi matahari telah muncul hendak terbit, maka tundalah shalat lebih dahulu hingga matahari agak tinggi sedikit dari pinggir langit (waktu shalat Dhuha), dan apabila tepi matahari telah mulai hilang ditepi langit maqka tundalah shalat terlebih dahulu sehingga matahari itu terbenam sama sekali (waktu shalat magrib).

Ini juklak tentang perintah shalat dilihat dari sisi waktunya, adapula hadist tentang tata-cara shalat, hal-hal yang membatalkan shalat, tempat shalat, dll. JADI TATA CARA RITUAL IBADAH DALAM ISLAM BUKAN DIKARANG-KARANG SENDIRI, MELAINKAN ADA CONTOHNYA DARI RASULULLAH, itulah gunanya hadist.

196. Dan sempurnakanlah ibadat haji dan umrah karena Allah. (Al Baqarah)

Juklaknya ada dalam hadist, contohnya ;

Shahih Muslim : Dari Ya’la bin Umayyah, dari bapaknya, katanya : “Rasulullah bersabda : “ tanggalkan jubahmu, cuci cat jenggot dan rambutmu. Lalu apa yang diperbuat dalam haji lakukan pula dalam umrah”. Itu juklak terkait dengan cat rambut dan pakaian, ada juga juklak soal waktu haji, hal yang membatalkan haji, dll. JADI UMAT ISLAM TIDAK NGARANG-NGARANG SENDIRI BAGAIMANA CARANYA MELAKSANAKAN RITUAL IBADAH HAJI, MELAINKAN ADA PANDUANNYA DARI RASULULLAH, itulah gunanya hadist.

semua ‘juklak’ dari ritual ibadah tersebut dicontohkan oleh nabi Muhammad SAW sebagai sunnah dan dicatat dalam hadist.

Sunnah Rasulullah ditemukan dalam hadist, namun tidak semua hadist berisi Sunnah Nabi, ada juga hadist yang menceritakan tentang ucapan para sahabat yang bercerita seputar kejadian-kejadian disekitar Rasulullah. Setelah wafatnya Rasulullah, ditemukan banyak beredarnya hadist-hadist, termasuk hadist-hadist palsu, yaitu bukan merupakan ucapan dan tingkah laku Nabi, atau kejadian sebenarnya disekitar Nabi, tapi dikatakan barasal dari Rasululllah. Umumnya hadist palsu ini digolongkan kepada 3 hal :

1. Diproduksi oleh umat Muslim sendiri dengan tujuan untuk menyerang Muslim yang lain, yang merupakan lawan politiknya, seperti pertikaian antara Syiah dengan non Syiah, masing-masing memproduksi hadist palsu untuk mempengaruhi masyarakat bahwa lawannya adalah golongan yang bertentangan dengan ajaran Islam, atau menyatakan golongannya sendiri yang diakui sebagai Islam yang benar.

Contohnya ada hadist : Rasulullah bersabda : “Hai Ali.., sesungguhnya Allah telah mengampunimu, keturunanmu, kedua orang tuamu, ahlimu, kelompokmu dan orang orang yang mencintaimu “. Selain isnadnya yang tidak jelas, isinya juga bertentangan dengan Al-Qur’an. Atau sebaliknya : Dari Abdullah ibn Abu Aufa, katanya, saya melihat Nabi sedang bersenda gurau dengan Ali, tiba-tiba datang Abu bakar dan Umar menghadap beliau, maka Nabi bersabda : “ Wahai Ali, cintailah mereka, dengan demikian engkau akan masuk surga”. Ini juga dikategorikan palsu karena peneliti hadist menemukan isnadnya tidak jelas dan isinya juga ngawur.

2. Diproduksi oleh Non Muslim yang bermaksud untuk membelokkan ajaran Islam, memproduksi hadist palsu yang berisi ajaran yang sama sekali tidak diajarkan oleh Rasulullah, biasanya merupakan ‘infiltrasi’ ajarannya dan dikemas dengan bunyi hadist yang ‘terlihat Islami’.

Contohnya ada hadist favorit yang sering dilantunkan netters non Muslim disini yang berbunyi : “Semua bayi yang baru lahir digoda oleh syaitan, kecuali Isa Almasih dan ibunya”. Lalu dikatakan ini Shahih Bukhari Muslim, padahal tidak ada hadist tersebut dalam kitab Shahih Bukhari Muslim, yang ada justru ; Abu Hurairah mengatakan, Rasulullah bersabda : “Tidak seorang anakpun yang lahir kecuali dalam keadaan suci bersih. Kedua orang tuanyalah yang menyebabkan dia menjadi Yahudi, Nasrani atau Majusi”. Biasanya tekhniknya, kedua kalimat ini digabung dan dinyatakan : ini shahih Bukhari Muslim, padahal yang shahihnya itu kalimat kedua, sedangkan kalimat pertama ‘dicantelkan’ dan ‘ikut-ikutan’ menjadi shahih.

3. Ada juga yang memproduksi hadist palsu dengan tujuan yang baik, maksudnya untuk memperjelas dan memotivasi agar pemeluk Islam makin giat melaksanakan ajaran Islam. Sekalipun maksudnya baik, tapi karena tidak memenuhi syarat sanad dan matannya, para peneliti hadikst memasukkannya kedalam hadist palsu.

Contohnya : “Barang siapa yang mengucapkan Laa ilaa haa illa Allah, maka untuk setiap kata yang diucapkan itu ia telah menciptakan seekor burung yang paruhnya terbuat dari emas dan sayapnya terbuat dari marjan”. Hadist tersebut dikatakan diriwayatkan oleh Ahmad bin Hambal dan Yahya bin Ma’in, namun ketika ditanyakan kepada kedua ulama tersebut, mereka mengatakan tidak pernah mengeluarkan atau mendengar dari orang lain hadist yang dimaksud.

Menurut Dr. syamsuddin Arif. MA dalam jurnal triwulan Al-Insan No.2 Vol 1 thn 2005, “Perlu diketahui dan senantiasa diingat bahwa umat Islam, khususnya kaum berilmu alias ulama, dari dulunya (salaf) hingga sekarang (khalaf), tidak pernah ada yang meyakini dan mengatakan bahwa seluruh hadist yang ada itu adalah asli atau shahih semua. Sebaliknya, tidak ada pula yang berkeyakinan bahwa semua hadist yang ada itu palsu belaka.

Hadist dikelompokkan berdasarkan beberapa kriteria :

(1) dari segi jumlah periwayatnya, dalam menyampaikan sebuah hadist, Rasulullah kadang berhadapan dengan banyak orang, kadang dengan segelintir orang dan bisa juga hanya kepada satu orang saja. Orang-orang tersebut kemudian menyampaikan secara turun-temurun. Hadist yang disampaikan kepada banyak orang disebut hadist muttawatir, ini klasifikasi hadist yang paling berbobot, karena diriwayatkan oleh banyak orang, kecil kemungkinan bahwa banyak orang sepakat berbohong dan mengeluarkan hadist palsu, kalau disampaikan kepada beberapa orang saja disebut hadist mansyur tingkat keshahihannya berada dibawah hadist muttawatir. Kalau disampaikan hanya kepada satu orang disebut hadist ahad tingkat kepercayaan orang terhadap hadist ini tergantung kualitas orang yang meriwayatkannya dan persambungan sanadnya (cara penyampaian).

(2) Dari sisi penerimaan dan penolakan, hadist dibagi atas hadist shahih yaitu yang sanadnya bersambung, diriwayatkan oleh orang yang mempunyai reputasi baik, isi hadist tersebut tidak syadz (tidak bertentangan dengan Al-Qur’an dan hadist lain yang lebih kuat) dan tidak mengandung cacat (tidak ditemukan adanya usaha penipuan dengan cara menyambung sanadnya seolah-olah sampai kepada Rasulullah), ada juga hadist hasansedikit dibawah hadist shahih, karena dalam periwayatannya ditemukan orang-orang yang ‘agak diragukan’ kredibilitasnya, dan hadist dhaif merupakan lawan dari hadist shahih, sanadnya terputus, orang yang meriwayatkannya tidak dikenal, dll.

Bagaimana mengetahui seorang yang meriwayatkan hadist adalah orang baik atau bukan..? dalam ilmu hadist ada suatu cabang ilmu yang khusus menelaah sejarah para perawi (yang meriwayatkan) hadist, yaitu Ilmu Riyal al-Hadist, membicarakan tentang orang-orang yang membawa hadist mulai dari sahabat Rasulullah sampai periwayat terakhir, sejarah hidupnya, reputasinya, dll.

Contoh cara menelaah suatu hadist.

Dari Hadist Turmudzi :
Diriwayatkan dari Abu salamah yahya Ibn Khalaf, katanya, telah bercerita kepada saya Bisyr Ibn al-Mufaddal, dari ‘Ummarah ibn Ghaziyyah, dari yahya Ibn “Ummarah , dari Abu Sa’id al-Khudri, dari Nabi Muhammad SAW, katanya : “Talqinlah mayitmu dengan Laa Ilaha Illallaah..”

Dari hadist Abu Dawud :
Telah bercerita kepada kami, Musaddad, katanya dari Bisyr, katanya dari ‘Ummarah ibn Ghaziyyah, katanya dari Yahya ibn ‘Ummarah, katanya dari Abu Sa’id al Khudri, katanyaq Rasulullah pernah bersabda : “Talqinlah mayitmu dengan Laa Ilaha Illalaah..”

Dua hadist ini bunyinya sama, namun dari para periwayatnya ada dua jalur, yang berpisah setelah Bisyr ibn al-Mufaddal, yaitu satu kepada Abu Salamah kemudian dikumpulkan oleh Tumudzi, satu lagi kepada Musaddad dikumpulkan oleh Abu Daud.

Jalur Turmudzi kemudian dianalisa :, Al Turmudzi, tercatat sebagai seorang yang mumpuni dan jujur hidup tahun 209 – 279 H. Turmudzi menerima hadist dari abu Salamah, dalam kitab Tahzib al-tahzib ditemukan nama lengkap tokoh ini Yahya ibn khalaf al-Bahili Abu salamah al-Bishri, tidak disebutkan kapan lahirnya, namun tercatat tanhun kematiannya 242 H, jadi Abu salamah dipastikan bertemu dengan Turmudzi. Kemudian dianalisa orang diatasnya yaitu Bisyr ibn Al-Mufaddal, dalam kitab Tahzib, ada 38 orang yang bernama Bisyr, tapi hanya 1 orang yang ibn al-Mufaddal, tercatat sebagai tokoh yang menerima hadist dari banyak ulama, tidak tercatat kapan lahirnya, namun wafatnya adalah tahun 187 H, jadi tidak jelas apakah Abu salamah pernah bertemu dengan Bisyr ibn al-muhaddad. Setelah ditelusuri sampai keatas, maka hadist ini digolongkan sebagai hadist hasan belum dikategorikan hadist shahih..

Tentu ada pertanyaan, alangkah nyelimetnya.., apakah seorang muslim harus meneliti seperti itu…?, kalau anda berminat tentu saja dipersilahkan.. anda terbuka untuk meneliti suatu hadist shahih atau tidak dengan cara tersebut. Namun bagi kebanyakan muslim, sudah ada para Ulama Hadist yang melakukan hal itu, dan mengeluarkan buku kumpulan hadist, yaitu :

1. Imam Bukhari, tercatat ‘mengkoleksi’ ratusan ribu hadist baik yang shahih maupun yang tidak, karena beliau memang dikenal punya ‘hobby’ demikian sejak masa mudanya. Imam Bukhari banyak menulis buku tentang hadist, namun yang menjadi rujukan kaum Muslim sampai sekarang adalah kitab ‘Al jami’ al Shahih’ atau populer disebut Shahih Bukhari’. Imam Bukhari hanya memasukkan hadist yang dinilainya shahih saja ke dalam bukunya tersebut, tercatat berjumlah 9.082 buah hadist, namun terdapat hadist yang disebut ulang (hadist yang bunyinya sama tapi diriwayatkan oleh jalur yang lain), kalau tidak diulang, jumlah hadistnya adalah 2.602 buah. Namun terdapat pula kritik atas Shahih Bukhari ini, terdapat kira-kira 110 buah hadist yang diragukan para ulama setelahnya, karena kualitas periwayatnya yang dianggap tidak memenuhi syarat, tapi menurut Imam Bukhari sudah memenuhi syarat.

2. Imam Muslim, ada sekitar 20 buku yang ditulis oleh Imam Muslim, namun yang menjadi rujukan umat Islam sampai sekarang adalah kitab ‘Shahih Muslim’ yang berisi 3.030 buah hadist. Namun ulama sesudahnya menyatakan bahwa tedapat sekurang-kurangnya 620 buah diantaranya yang diragukan keabsahannya. Contohnya adalah, terdapat hadist yang berbunyi : “ Barang siapa setiap pagi makan tujuh biji kurma, tidak akan dilanda oleh bahaya racun atau sihir pada hari itu hingga malamnya”. Ahmad Amin mengkritik hadist tersebut karena dinilainya tidak masuk akal. Namun al Siba’I melakukan pembelaan bahwa : ‘sebuah hadist dapat kita terima kebenarannya selama sanadnya shahih dan matannya juga shahih. Persoalannya, pernahkan ahli kedokteran melakukan penelitian untuk membuktikan kebenaran hadist tersebut..??

3. Imam Abu Daud, menghasilkan kitab kumpulan hadist dengan fokus pada bidang fiqih (hukum), yang terkenal adalah kitab ‘Sunan Abu Daud’ berisi 4.800 buah hadist. Beliau mengakui bahwa tidak semua hadist dalam kitab tersebut adalah shahih, karenanya dia memberikan catatan terhadap beberapa hadist lemah yang ada di dalamnya. Dalam dunia Islam kitab Sunan Abu Daud ini, diperlakukan berada dibawah kitab shahih Bukhari Muslim.

4. Imam Turmudzi, menghasilkan kitab hadist ‘Sunan al Turmudzi, memuat 3.956 hadist, di dalam kitab tersebut dimasukkan semua hadistr shahih, hasan (baik) dan dha’if, lalu setiap hadist tersebut diberi catatan dan keterangan. Turmudzi adalah orang yang pertama kali memunculkan istilah hadist hasan (baik) yaitu hadist yang tidak layak digolongkan shahih, tapi juga bukan hadist dha’if.

5. Imam al Nasa’I, menghasilkan kitan hadist ‘Al Sunan al Kubra’ di dalamnya juga dimuat hadist shahih, hasan dan dha’if, lalu beliau menseleksi kembali kitab tersebut untuk memilih hanya hadist yang shahih saja, maka lahirlah kitab ‘Al Sunan al Mujtaba’, tapi ternyata dalam kitab yang terakhir ini ditemukan juga hadist hasan dan dha’if.

6. Imam Ibnu Majah, menghasilkan kitab ‘Sunan Ibnu Majah’ memuat 4.341 buah hadist, Ibnu Majah tidak memberikan catatan tentang hadist yang ada dalam kitab tersebut, maka semua diserahkan kepada pembacanya untuk menilai. Dr. Fuad abdul Baqi mencatat terdapat 199 hadist bernilai hasan, 619 lemah dan 99 buah hadist munkar

Dalam dunia Islam, kitab hadist yang terbaik sampai sekarang adalah oleh Imam Bukhari dan Imam Muslim, beliau menjamin bahwa hadist yang ada dalam buku tersebut dikategorikan sebagai hadist shahih. Jadi ‘trend’ orang orang termasuk non muslim dalam forum ini, mengutip suatu hadist, lalu diberi keterangan dalam kurung ‘Bukhari Muslim’, maka salah satu untuk menchecknya, silahkan baca kitab karangan Imam Bukhari yaitu ‘Shahih Bukhari’ dan karangan Imam Muslim yaitu ‘Shahih Muslim’, ada nggak hadistnya disana, kalau ada, apakah bunyinya sama.

Bagi saya pribadi, tidak perlu mempedulikan gugatan non muslim soal shahih atau tidaknya suatu hadist, tentang ‘sekian orang yang masuk surga sekian yang masuk neraka, atau tentang sekian golongan umat Islam, cuma satu golongan yang masuk surga. dll’, kalau mereka bertanya, suruh saja membuka sendiri kitabnya dan mencarinya sendiri, apa benar yang dikutip tersebut ada dalam kitab hadist yang bersangkutan. Yang perlu dipedomani dari suatu hadist adalah : KETERANGAN UNTUK MENJALANKAN APA YANG DIPERINTAHKAN OLEH AL-QUR’AN, sesuai yang telah dicontohkan oleh Rasulullah, sehingga apa yang diwasiatkan oleh Rasulullah dalam khotbahnya pada haji Wada’ tersebut terlaksana :

“Sesungguhnya, aku tinggalkan kepadamu sesuatu yang jika engkau berpegang dengannya niscaya kamu tidak akan sesat selama-lamanya, suatu urusan yang terang nyata, yaitu Kitab Allah dan Sunnah Rasul-Nya”

Orang-orang Kristen sering bertanya kepada umat Islam dalam berbagai kesempatan, baik orang per orang, dalam diskusi terbuka, di Internet maupun dalam buku-buku yang menghujat Islam.

Dalam diskusi kami di Arimatea Pusat di Bambu Apus dengan orang-orang sekolah Theologi Kristen, mereka bertanya mengapa al-Qur’an susunannya tidak beraturan, atau dalam bentuk pertanyaan lain yang lebih halus :

Kami ingin mengetahui, berdasarkan apakah al-Qur’an disusun? karena kalau kami amati, surat pertama dalam al-Qur’an adalah surat al-fatihah yang termasuk surat pendek, kemudian disusul surat al-Baqarah yang cukup panjang, tetapi surat terakhir justru surat yang masuk dalam katagori surat yang sangat pendek. Jadi menurut pendapat kami al-Qur’an tidaklah disusun berdasarkan panjang pendeknya surat, dan menurut pengamatan kami, al-Qur’an tidak pula disusun berdasarkan urutan turunnya surat, karena surat al-Fatihah bukanlah surat yang pertama kali turun tetapi ditempatkan pada urutan pertama, dan surat yang pertama kali turun justru ditempatkan pada akhir-akhir al-Qur’an. Mohon dijelaskan atas dasar apakah penyusunan al-Qur’an itu ?

Pertanyaan seperti itu memang sangat wajar dilontarkan oleh orang-orang Kristen, karena memang kitab mereka disusun berurutan sama persis dengan kitab sejarah yang disusun berdasarkan urutan waktu.

Kalau kita tengok kitab orang Kristen, pasal pertama adalah tentang silsilah Yesus, kemudian disusul tentang kelahiran Yesus, kemudian pembaptisan Yesus, dakwah Yesus, pengejaran Yesus dan akhirnya tentang terangkatnya Yesus ke langit, hampir sama dengan kitab otobiographi orang-orang terkenal yang disusun sejak lahirnya hingga masa tuanya (matinya).

Tetapi tidak sama dengan al-Qur’an, karena al-Qur’an bukanlah kitab sejarah, al-Qur’an adalah kitab petunjuk hidup, al-Qur’an adalah kitab yang berisi hukum-hukum, pelajaran-pelajaran dan lain sebagainya.

Marilah kita kaji rahasia dibalik susunan ayat-ayat al-Qur’an yang menurut orang-orang Orientalis dan Kristen tidak beraturan.

SUSUNANNYA DARI ALLAH SWT
Bahwa susunan ayat-ayat dan surat-surat dalam al-Qur’an seperti yang sekarang ini ada adalah susunan yang dibuat oleh nabi Muhammad saw yang mendapat mandat dan pengawasan dari Allah SWT melalui malaikat Jibril. Bukan atas kesepakatan para sahabat atau umat Islam.

Sesungguhnya atas tanggungan Kamilah mengumpulkannya (di dadamu) dan (membuatmu pandai) membacanya. QS.75:17

Apabila Kami telah selesai membacakannya maka ikutilah bacaannya itu. QS. 75:18

Bila Malaikat jibril membacakan wahyu dari Allah SWT maka nabi Muhammad diperintah mendengarkannya dan bila Malaikat Jibril telah selesai membacakannya maka nabi Muhammad saw diperintah untuk mengikuti bacaan sesuai yang dibacakan malaikat Jibril .

Malaikat Jibril setiap tahun pada bulan Ramadhan datang menemui nabi untuk menjaga bacaan dan susunan al-Qur’an :
Fatimah berkata :’Nabi Muhammad memberitahukan kepadaku secara rahasia, Malaikat Jibril hadir membacakan al-Qur’an padaku dan saya membacakannya sekali setahun, hanya tahun ini ia membacakan seluruh isi kandungan al-Qur’an selama dua kali. Saya tidak berpikir lain kecuali, rasanya, masa kematian sudah semakin dekat.’ HR. Bukhari bab Fada’il al-Qur’an

Ibnu Abbas meriwayatkan bahwa nabi Muhammad saw berjumpa dengan malaikat Jibril setiap malam selama bulan Ramadhan hingga akhir bulan, masing-masing membaca al-Qur’an silih berganti. HR. Bukhari bab shaum

Hadith - hadith diatas dan beberapa hadith yang lainnya memberikan gambaran bahwa sistem bacaan antara nabi Muhammad saw dengan malaikat Jibril adalah menggunakan sistem Mu’arada yaitu malaikat Jibril membaca satu kali dan nabi Muhammad saw mendengarkannya begitu pula sebaliknya.

Dengan sistem tersebut yang secara periodik dilakukan setiap bulan Ramadhan, memberikan jaminan bahwa susunan al-Qur’an yang sampai kepada umat Islam di seluruh dunia hingga saat ini adalah susunan yang sesuai dengan susunan yang Allah SWT kehendaki.


SUSUNANNYA UNIK, ITULAH KETERATURANNYA.
Kata orang-orang Orientalis dan orang-orang Kristen, al-Qur’an susunannya tidak beraturan, tidak berdasarkan urutan waktu turunnya, tidak berdasarkan panjang pendeknya surat, tidak berdasarkan tempat turunnya dan tidak pula berdasarkan pokok bahasan. Semua anggapan itu benar adanya, memang tidak atas dasar itu semua, susunan al-Qur’an atas dasar apa yang tahu hanya yang membuat al-Qur’an yaitu Allah SWT.

Namun, susunan yang dikatakan tidak beraturan tersebut, bagi yang mengkaji al-Qur’an justru akan menjumpai kemudahan-kemudahan menjadikan al-Qur’an sebagai tuntunan hidup, coba saja simak dengan hati yang jujur, ustadz-ustadz yang berdakwa jarang sekali yang membawa al-Qur’an, mereka dengan mudahnya menunjukkan ayat-ayat yang sesuai dengan pokok bahasan. Bila ada orang yang bertanya tentang sebuah masalah, seorang ustadz de-ngan mudahnya menunjukkan dalilnya dari al-Qur’an, inilah rahasia susunan al-Qur’an yang dibilang oleh orang-orang mereka tidak beraturan.

Satu lagi mukjizat dari al-Qur’an yang dibilang tidak beraturan tersebut, berjuta-juta manusia dengan mudahnya menghafal al-Qur-’an, baik tua, muda, laki-laki, perempuan, anak-anak, orang Arab ataupun orang Indonesia, bahkan orang China sekalipun yang mempunyai struktur bahasa sangat berbeda dengan bahasa Arab, bukankah ini mukjizat al-Qur’an yang menurut penilaian manusia tidak beraturan, bukankah yang tidak beraturan akan sulit dihafal ?, tetapi al-Qur’an mudah sekali dihafal, itu artinya al-Qur’an sangat beraturan susunannya, hanya manusialah yang tidak mempunyai ilmu mengetahui keteraturan al-Qur’an.

Tetapi pertanyaan bisa kita kembalikan kepada orang-orang Orientalis dan orang-orang Kristen, mengapa tidak seorangpun dari mereka yang hafal kitab mereka yang mereka aku-aku disusun secara beraturan ?

Tentu setiap orang bila tanya mana yang lebih mudah dihafalkan, apakah kalimat yang disusun secara beraturan atau kalimat yang disusun acak tidak beraturan, tentu setiap orang akan menjawab tentu akan mudah meng-hafal kalimat yang disusun beraturan, kalau memang jawabannya demikian berarti al-Qur’an telah disusun dengan beraturan, terbukti al-Qur’an telah dihafal oleh jutaan manusia dari dulu hingga sekarang, dari Arab sampai ke China. Tetapi kita tidak mendapati seorangpun yang hafal Bible dari dulu hingga sekarang dari Israel hingga Indonesia.

Satu lagi bukti, bahwa keunikan al-Qur’an adalah sebuah mukjizat, apakah ada orang yang berhasil memalsukan al-Qur’an, padahal kalau al-Qur’an susunannya dibilang tidak beraturan, tentunya orang akan lebih mudah menyisipkan satu kata ke dalam al-Qur’an, tetapi ternyata semua tidak ada yang berhasil, baik orang-orang Orientalis maupun orang-orang Indonesia seperti yang pernah terjadi di Padang dan di Jogja.


BUMI SEBAGAI ANALOGI
Bila kita cermati bumi yang kita tempati ini, di mana-mana ada gunung, laut, daratan, hutan, danau, emas, batu-bara, mangga, apel, jeruk, durian dan lain sebagainya.

Kalau hukum keteraturan seperti yang diinginkan oleh orang-orang Orientalis dan orang-orang Kristen, maka susunan gunung, daratan, lautan, danau, buah-buahan, hewan yang ada di bumi dapat dikatakan semrawut tidak terkelompokkan.

Padahal susunan bumi yang seperti itulah yang menjadikan kehidupan di bumi ini harmonis dan seimbang baik secara geografis maupun secara ekosistem.

Bisa anda bayangkan andaikata bumi ini diciptakan dengan susunan menurut otaknya orang-orang Orientalis di mana gunung-gunung ditempatkan di satu tempat, lautan mengumpul di tempat yang lainnya, daratan ditempat yang lain lagi, maka bumi ini akan berhenti berputar karena kehilangan keseimbangannya. Bukankah ketidakteraturan susunan gunung-gunung, lautan, daratan, lembah itulah yang justru menjadikan bumi berputar?.

Bukankah adanya buah-buahan, hewan, ikan dan lain sebagainya diseluruh belahan bumi ini menjadikan kehidupan dunia ini seimbang dan harmonis, bisa anda bayangkan andaikan di Indonesia ini tumbuh buah durian saja, di Thailan tumbuh beras saja, di Australia tumbuh gandum saja, di Amerika yang ada batu bara saja tidak ada hewan, buah-buahan dan air, maka tidak ada lagi keseimbangan dalam kehidupan di bumi ini.

Seperti yang pernah terjadi pada kaumnya nabi Musa as, di mana mereka tidak bisa tahan dengan satu makanan saja :

Dan (ingatlah), ketika kamu berkata:"Hai Musa, kami tidak bisa sabar (tahan) dengan satu macam makanan saja. Sebab itu mohonkanlah untuk kami kepada Rabbmu, agar Dia mengeluarkan bagi kami dari apa yang ditumbuhkan bumi, yaitu: sayur-mayurnya, ketimunnya, bawang putihnya, kacang adasnya, dan bawang merah-nya"……. QS. 2:61

Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, silih bergantinya malam dan siang, bahtera yang berlayar di laut membawa apa yang berguna bagi manusia, dan apa yang Allah turunkan dari langit berupa air, lalu dengan air itu Dia hidupkan bumi sesudah mati (kering)-nya dan Dia sebarkan di bumi itu segala jenis hewan, dan pengi-saran angin dan awan yang dikendalikan antara langit dan bumi; sungguh (terdapat) tanda-tanda (keesaan dan kebesaran Allah) bagi kaum yang memikirkan. QS. 2:164

Begitulah Allah SWT menciptakan bumi yang harmonis yang tumbuh buah-buahan dan menyebarkan bermacam-macam hewan di seluruh belahan bumi ini sehingga tercipta keharmonisan dan keseimbangan.

Seperti itu juga al-Qur’an disusun, ada kisah nabi Adam pada surat Ali Imran, Al-Mai-dah, al-A’raaf dan seterusnya, begitu juga tentang ayat-ayat aklaq, akidah, ilmu pengetahuan dan lain sebagainya menyebar di beberapa surat. Hanya Allah SWT yang mengetahui secara persi letak keteraturan dan keharmonisan al-Qur’an.

Pada halaman empat terdapat dua contoh penempatan ayat yang sepintas nampak tidak teratur tetapi setelah dikaji justru penempatan tersebut sangat mengagumkan.


CONTOH-CONTOH RAHASIA PENEMPATAN AYAT-AYAT AL-QUR’AN
Mari kita ambil satu contoh ayat dan penempatannya :

Kitab (al-Qur'an) ini tidak ada keraguan padanya; petunjuk bagi mereka yang bertaqwa, QS.2:2

Allah SWT menegaskan pada awal-awal al-Qur-’an dengan menyebut bahwa Al-Qur’an adalah kitab yang tidak ada keraguan sedikitpun di dalamnya, padahal Allah SWT bisa saja menyebutkan al-Qur’an sebagai kitab yang Agung, Mulya dan lain sebagainya pada awal-awal al-Qur’an.

Hal ini sebagai jaminan dari Allah dan jaminan harus diletakkan pertama kali agar orang-orang yang ingin mempelajari kandungan al-Qur’an lebih jauh mempunyai keyakinan bahwa al-Qur’an adalah kitab yang isinya tidak ada keragu-raguan sedikitpun, jaminan ini diperlukan karena al-Qur’an adalah kitab petunjuk yang tentunya tidak boleh ada keraguan sedikitpun dalam petunjuk tersebut.

Mari kita ambil lagi susunan ayat yang oleh orang-orang Orientalis dan orang-orang Kristen dibilang tidak beraturan :
Diharamkan bagimu (memakan) bangkai, darah, daging babi, (daging hewan) yang disembelih atas nama selain Allah, yang tercekik, yang terpukul, yang jatuh, yang ditanduk, yang diterkam binatang buas, kecuali yang sem-pat kamu menyembelihnya, dan (diharam-kan bagimu) yang disembelih untuk berhala. Dan (di-haramkan juga) mengundi nasib dengan anak panah, (mengundi nasib dengan anak panah itu) adalah ke-fasikan.

Pada hari ini orang-orang kafir telah putus asa untuk (mengalahkan) agamamu, sebab itu janganlah kamu takut kepada mereka dan takutlah kepada-Ku.

Pada hari ini telah Kusempurnakan untuk kamu agamamu dan telah Kucukupkan kepadamu nikmat-Ku, dan telah Ku-ridhai Islam itu jadi agamamu.

Maka barangsiapa terpaksa karena kelaparan tanpa sengaja berbuat dosa,sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. QS. 5:3


Wahyu-wahyu tersebut tersusun dalam satu ayat, namun wahyu-wahyu tersebut tidak turun dalam waktu yang bersamaan, paragraf ketiga adalah wahyu yang turun terakhir, sementara paragrap pertama, kedua dan ke empat turun jauh sebelumnya.

Menurut orang-orang Orintalis dan orang-orang Kristen susunan tersebut amburadul, lihat saja dari paragraf pertama yang bicara soal halal haram langsung loncat ke masalah tidak boleh takut kepada orang-orang kafir pada paragraf kedua, lalu disusul tentang kesempurnaan agama dan nikmat lalu loncat ke masalah makanan.

Sepintas sepertinya benar tuduhan mereka tentang ketidak-teraturan susunan al-Qur’an, tetapi justru susunan tersebut sangat teratur dan harmonis, lihat keteraturan ayat tersebut berikut ini :

Bahwa nabi Muhammad saw diutus untuk memperbaiki aklaq manusia di mana mereka saat itu salah satunya adalah terbiasa memakan bangkai, mence-kik hewan untuk dimakan supaya nikmat karena ada darahnya, mengundi nasib, seperti paragrap pertama.

Terhadap misi Rasulullah tersebut orang-orang kafir berusaha menghalang-halangi, lalu Allah memberikan kemenangan atas Rasulullah sehingga orang-orang kafir berputus asa untuk menghalangi misi Rasulullah tersebut, seperti paragraf kedua.

Atas kemenangan tersebut Allah SWT menurunkan wahyu -wahyu yang terakhir kali turun- bahwa telah sempurna agama dan nikmat yang Allah berikan seperti yang termuat dalam paragraf ketiga,

Kemudian dalam paragraf ke empat di terangkan bila karena syariat Allah SWT (hukum halal-Haram) orang menjadi kelaparan dan memakan yang haram karena terpaksa maka Allah Maha Pengampun dan Maha Penyayang.


Bukankah susunan seperti itu adalah susunan seperti gunung-gunung, daratan, lautan, hutan yang menyebar di seluruh permukaan bumi, yang terkesan tidak teratur tetapi sejatinya harmonis dan seimbang.

Bukankah susunan ayat tersebut terkesan tidak teratur tetapi sejatinya sangat sempurna dan mengagumkan susunannya sebagai petunjuk hidup ?, seperti itu juga ayat-ayat lainnya di susun pada tempat dan urutan yang sangat tepat.

Semoga tulisan ini dapat menambah keimanan kita akan kemurnian Al-Qur'an. Amin. (al-islahonline)

Budaya Suap, Hentikanlah Segera !

Sesungguhnya sesuatu yang diharamkan bahkan sangat diharamkan dalam ajaran Islam adalah suap. Suap berarti memberi sejumlah harta benda kepada pihak yang berwenang (pelaku birokrasi) yang mana dengan tanpa pemberian tersebut hal itu memang sudah menjadi kewajibannya yang harus ditunaikan.

Hukum suap menjadi sangat diharamkan jika tujuannya adalah memutarbalikkan yang batil menjadi benar atau membenarkan kebatilan atau menganiaya seseorang. Sedang menurut Ibnu Abidin bahwa suap adalah sesuatu yang diberikan seseorang kepada hakim atau lainnya supaya orang itu memutuskan sesuatu hal yang memihak kepadanya atau agar ia memperoleh keinginannya (dengan pemberian tersebut-pent).

Sesuatu yang diberikan itu adakalanya berupa harta benda, uang atau apa saja yang bermanfaat bagi si penerima sehingga keinginan penyuap tersebut dapat terwujud.

Suap termasuk salah satu dosa besar yang diharamkan Allah Subhannahu wa Ta'ala atas hamba-hamba-Nya, dan Rasulullah Shallallaahu 'alaihi wa Salam pun melaknat pelakunya. Kita wajib menjauhi dan waspada terhadapnya serta memberi peringatan kepada orang-orang yang melakukannya karena suap mengandung kejahatan dan merupakan dosa besar serta berakibat sangat buruk. Allah Subhannahu wa Ta'ala melarang kita untuk bekerjasama dalam dosa dan pelanggaran. Allah Subhannahu wa Ta'ala berfirman: "Dan tolong-menolonglah kamu dalam (mengerjakan) kebajikan dan taqwa, dan jangan tolong-menolong dalam berbuat dosa dan pelanggaran." (Al Maidah: 2)

Allah Subhannahu wa Ta'ala juga melarang kita memakan harta orang lain dengan cara yang batil, sebagaimana firman-Nya: "Dan janganlah sebahagian kamu memakan harta sebahagian yang lain di antara kamu dengan jalan yang batil dan (janganlah) kamu membawa (urusan) harta itu kepada hakim, supaya kamu dapat memakan sebahagian daripada harta benda orang lain itu dengan (jalan berbuat) dosa, padahal kamu menge-tahui." (Al Baqarah: 188)

Suap termasuk cara paling buruk dalam memakan harta orang lain dengan jalan batil, karena ia memberi uang kepada orang lain (secara tidak semestinya) dengan maksud untuk menghalangi kebenaran.

Pengharaman suap meliputi 3 unsur yaitu: Penyuap, yang disuap dan perantara dari keduanya, sebagai-mana sabda Rasulullah Shallallaahu 'alaihi wa Salam : "Allah Subhannahu wa Ta'ala melaknat penyuap, yang disuap dan perantara dari keduanya." (HR. Ahmad dan Thabrani)

Laknat Allah Subhannahu wa Ta'ala itu berarti diusir atau dijauhkan dari limpahan rahmat-Nya. (Naudzubillahi min dzalik) dan ini hanya terjadi pada perbuatan dosa besar. Suap merupakan perbuatan buruk dan diharamkan Al Qur'an dan As Sunnah. Dan sungguh Allah Subhannahu wa Ta'ala telah mengancam dan mencela orang-orang Yahudi karena memakan yang haram, sebagaimana firman-Nya: "Mereka itu adalah orang-orang yang suka mendengar berita bohong, banyak memakan yang haram." (Al Maidah: 42) Begitu juga firmanNya: "Dan kamu akan melihat keba-nyakan dari mereka (orang-orang Yahudi) bersegera membuat dosa, permusuhan dan memakan yang haram. Sesungguhnya amat buruk apa yang mereka telah kerjakan itu. Mengapa orang-orang alim mereka, pendeta-pendeta mereka tidak melarang mereka mengucapkan perkataan bohong dan memakan yang haram Sesungguhnya amat buruk apa yang telah mereka kerjakan itu." (Al Maidah: 62-63)

Terdapat banyak hadits yang memberikan peringatan dari perbuatan yang haram ini dan menerangkan akibat buruk bagi pelakunya, di antaranya adalah hadits yang diriwayatkan Ibnu Jarir dari Ibnu Umar Radhiallaahu anhu dari Nabi Shallallaahu 'alaihi wa Salam , beliau bersabda: "Setiap daging yang tumbuh dari yang haram maka neraka lebih pantas baginya."

Kemudian ditanyakan kepada Nabi Shallallaahu 'alaihi wa Salam : "Apakah barang yang haram itu?" Nabi Shallallaahu 'alaihi wa Salam menjawab: "Suap dalam proses hukum." Diriwayatkan dari Imam Ahmad dari Amr bin Ash Radhiallaahu anhu berkata: Saya men-dengar Rasulullah Shallallaahu 'alaihi wa Salam bersabda: "Sesungguhnya Allah Subhannahu wa Ta'ala itu Baik, tidak mau menerima kecuali baik dan sesungguhnya Allah Subhannahu wa Ta'ala menyuruh orang-orang mukmin sebagaimana menyuruh kepada para rasul.

Allah Subhannahu wa Ta'ala berfiman: "Hai rasul-rasul, makanlah dari makanan yang baik-baik dan kerjakanlah amal yang shalih. (Al Mukminun : 51) Dan Dia berfirman: "Hai orang-orang yang beriman, makanlah di antara rezki yang baik-baik yang Kami berikan kepadamu." (Al Baqarah: 172)

Kemudian Nabi Shallallaahu 'alaihi wa Salam menuturkan cerita seorang laki-laki yang datang dari tempat yang jauh, rambutnya tidak terurus dan badannya penuh debu sambil menadahkan tangannya ia mengucapkan: Ya Rabbi, Ya Rabbi, sedang makanannya haram, minuman-nya haram, pakaiannya haram dan diberi makan dengan yang haram, maka bagaimana mungkin doanya akan dikabulkan.

Wahai kaum muslimin, bertaqwalah kepada Allah Subhannahu wa Ta'ala, jauhilah murka-Nya dan yang menyebabkan kemarahan-Nya. Sesungguhnya Allah Subhannahu wa Ta'ala sangat cemburu jika dilanggar larangan-larangan-Nya. Disebutkan dalam hadits shahih: Tidak ada yang lebih pencemburu selain Allah Subhannahu wa Ta'ala .

Kemudian hindarkanlah dirimu dan keluargamu dari harta yang haram dan memakan yang haram, agar kamu dan keluargamu selamat dari api neraka yang dijadikan Allah Subhannahu wa Ta'ala lebih pantas ditempati bagi setiap daging yang tumbuh dari yang haram.

Sesungguhnya makanan yang haram menjadi sebab terhalang dan tidak terkabulnya do'a. Sebagaimana hadits yang diriwayatkan Muslim dari Abu Hurairah. Thabrani juga meriwa-yatkan dari Ibnu Abbas Radhiallaahu anhu ia berkata: Dihadapan Rasulullah Shallallaahu 'alaihi wa Salam dibacakan ayat: "Hai sekalian manusia makanlah yang halal lagi baik dari apa yang terdapat di bumi." (Al Baqarah: 168)

Kemudian Sa'ad bin Abi Waqash berdiri dan berakta: Ya Rasulullah, berdo'alah Anda kepada Allah agar Dia menjadikan aku orang yang selalu dikabulkan bila berdo'a. Lalu Nabi n menjawab: "Wahai Sa'ad, bersihkanlah isi perutmu, niscaya engkau menjadi orang yang selalu dikabulkan do'anya, demi jiwa Muhammad yang berada digeng-gamanNya, sesungguhnya seseorang yang menelan sesuap makanan yang haram ke dalam perutnya, maka Allah Subhannahu wa Ta'ala tidak akan menerima ibadahnya selama empat puluh hari. Dan hamba mana saja yang daging (tubuhnya) tumbuh dari yang haram maka neraka lebih pantas baginya. (Dikutip oleh Al Hafizh Ibnu Rajab dalam Kitab Jami'ul Ulum wal Hikam yang diriwayatkan oleh Thabrani).

Hadits di atas menerangkan bahwa tidak memilih makanan yang baik dan halal menyebabkan do'a seseorang terhalang, tidak sampai kepada Allah Subhannahu wa Ta'ala, dan cukuplah ia mendapat kesusahan dan kerugian. (Na'udzu billahi min dzalik)

Ketahuilah, sesungguhnya Allah Subhannahu wa Ta'ala menyeru agar menjauhkan diri dari neraka dan dari siksa-Nya yang pedih, sebagaimana firman-Nya: "Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu; penjaganya malaikat-malaikat yang kasar, yang keras, yang tidak mendurhakai Allah terhadap apa yang diperintahkan-Nya kepada mereka dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan. (At Tahrim: 6)

Wahai kaum muslimin, sambutlah seruan Allah, taatilah perintah-Nya dan jauhilah larangan-Nya, waspada ter-hadap hal-hal yang menimbulkan murka-Nya, pasti kita semua akan mendapat kebahagiaan di dunia dan di akhirat. Allah Subhannahu wa Ta'ala berfirman: Hai orang-orang beriman, penuhilah seruan Allah dan seruan Rasul apabila Rasul menyeru kamu kepada suatu yang memberi kehidupan kepada kamu, dan ketahuilah bahwa sesungguhnya Allah membatasi antara manusia dan hatinya, dan sesungguhnya kepada-Nyalah kamu akan dikumpulkan. Dan peliharalah dirimu dari pada siksaan yang tidak khusus menimpa orang-orang yang zhalim saja di antara kamu. Dan ketahuilah bahwa Allah amat keras siksaan-Nya. (Al Anfaal: 24-25)

Hanya Allah Subhannahu wa Ta'ala lah tempat kita meminta, semoga Allah Subhannahu wa Ta'ala menjadikan kita semua termasuk orang-orang yang mendengarkan firman-Nya, kemudian mengikutinya, dan termasuk orang-orang yang saling tolong menolong dalam kebaikan dan taqwa, senantiasa berpegang teguh dengan Kitabullah dan sunnah Rasul-Nya. Dan semoga Dia melindungi kita dari kejahatan jiwa kita dan keburukan perbuatan kita. Semoga Dia senantiasa menolong agama-Nya dan meninggikan kalimat-Nya, serta memberikan taufiq kepada pemimpin-pemimpin kita yang membawa kebaikan bagi rakyat dan negara. Sesungguhnya Dialah Pelindung dan Yang Maha Kuasa atas segalanya. (Bintu Abiha )

(Dikutip dari: buletin terbitan Daarul Wathan Riyadh judul Ar Risywah, Risalah Terbuka, Syaikh Abdul Aziz bin Abdullah bin Baz.)
Diposting oleh Adrians Islam Kurniawan

Aman dan Nyaman Berbelanja Online

Dengan akses internet, semua orang kini dapat berbelanja online atau dikenal dengan istilah e-commerce. Ribuan toko online dengan berbagai macam barang siap memanjakan Anda.

Namun demikian, tentu saja terdapat bermacam risiko saat melakukan belanja online misalnya barang tak dikirim, alamat e-mail dijual pada pihak lain, atau bahkan dicurinya data pribadi pembeli.

Untuk melakukan belanja online yang aman dan nyaman, berikut tip dan trik yang disarikan detikINET dari Privacyrights, Selasa (22/1/2008).

1. Lakukan Transaksi di Situs yang Terbukti Keamanannya

Situs bisa disebut aman jika memakai teknologi enkripsi untuk mentransfer informasi dari komputer pengguna ke komputer penjual. Dengan enkripsi, informasi penting seperti nomor kartu kredit bisa diamankan dengan kode tertentu untuk mencegah pencurian.

Indikasi situs yang aman salah satunya adalah Anda harus melihat 'https:/" di alamat situs. Adanya 's' di sini berarti situs tersebut bisa dikategorikan cukup aman. Biasanya, tanda 's' ini tak akan muncul sampai Anda mengakses halaman order barang dalam situs.

2. Selidiki Reputasi Situs

Situs e-commerce terpercaya setidaknya menyertakan nomor telepon yang bisa dihubungi untuk pelayanan konsumen atau untuk memesan barang. Cari tahu juga bagaimana reputasi perusahaan dalam melayani konsumennya, misalnya dengan mencari informasinya lewat Google. Jika kebetulan Anda baru pertama kali membeli lewat situs, pesan barang yang murah terlebih dahulu untuk mengamati apakah situs tersebut bisa dipercaya.

3. Baca Kebijakan Privasi dan Keamanan Situs

Setiap situs e -commerce terpercaya punya informasi tentang bagaimana sebuah transaksi perdagangan akan diproses dalam kebijakan privasi dan keamanannya. Perhatikan seksama informasi ini agar Anda tidak dirugikan. Meski demikian, tak bisa dijamin kebijakan ini selalu diberlakukan dengan baik. Karena itu, selalu berhati-hatilah dalam bertransaksi.

4. Cari Cara Transaksi Teraman

Pilihlah cara transaksi yang aman. Direkomendasikan untuk memakai kartu kredit saja daripada model-model transaksi lainnya.

5. Hanya Tulis Data yang Diperlukan

Ketika memesan barang, terdapat informasi pribadi yang harus disertakan seperti nama dan alamat Anda. Seringkali Anda diminta memberi informasi lainnya seperti pendapatan bulanan yang bisa disalahgunakan, misalnya untuk mengirimkan spam. Karena itu, pastikan Anda hanya menuliskan data yang diperlukan saja dalam proses transaksi. Ingat selalu bahwa pencurian data pribadi marak di internet.

6. Jaga Baik-baik Password Anda

Beberapa situs mengharuskan pengguna login dengan password sebelum memesan barang. Jaga baik-baik kerahasiaannya dan gunakan password yang sukar teridentifikasi.

7. Print Pesanan Anda

Direkomendasikan untuk mencetak halaman situs yang mengkonfirmasi seluruh hal mengenai pesanan Anda seperti harga barang, informasi produk atau nomor pesanan. Demikian juga dengan informasi yang dianggap penting seperti Kebijakan Keamanan Perusahaan. Hal ini untuk berjaga-jaga dari kemungkinan penipuan.

8. Perhatikan Bagaimana Cara Pesanan Anda akan Dikirimkan

Biasanya, barang Anda dijanjikan akan datang dalam periode waktu tertentu. Perhatikan informasi bagaimana cara perusahaan menangani kendala jarak atau masalah pembayaran pengantaran barang. Perhatikan pula apakah barang Anda digaransi atau bisa dikembalikan jika terdapat cacat. Jika terdapat hal-hal yang mencurigakan atau tidak masuk akal, Anda bisa mempertimbangkan untuk beralih ke situs e-commerce yang lain.

Sumber : detikinet.com